Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Habib Abdallah: Belajar Arti Kehilangan dan Tanggung Jawab


Pernahkah kalian merasa berada di titik terendah saat kehilangan seseorang yang sangat dicintai, namun di saat yang sama, dunia menuntut kalian untuk tetap tegak berdiri? Itulah atmosfer yang sangat kental terasa di acara Haul ke-5 Al-Habib Musthofa bin Jafar Assegaf yang berlangsung di Alun-Alun Bogor baru-baru ini.

​Di bawah guyuran hujan yang tak henti-henti seolah langit pun ikut menangis syahdu sosok Habib Abdullah bin Jafar Assegaf berdiri sebagai tuan rumah, pemimpin, sekaligus seorang kakak yang merindukan adiknya. Dalam artikel ini, mari kita selami pesan mendalam dari beliau yang mungkin bisa mengubah cara kita memandang tanggung jawab dan persaudaraan.

​Hujan Bukan Halangan, Tapi Rahmat

​Hal pertama yang menarik perhatian saya dari sambutan Habib Abdullah adalah ketenangannya. Bayangkan, ribuan jemaah hadir, basah kuyup, duduk di aspal yang dingin. Namun, Habib Abdullah tidak melihat ini sebagai bencana. Beliau justru membuka majelis dengan apresiasi tinggi kepada aparat keamanan (TNI/Polri) dan para jemaah yang setia.

​Ini adalah pelajaran kepemimpinan pertama: Perspektif. Saat kita melihat hujan sebagai gangguan, kita akan mengeluh. Tapi saat pemimpin melihatnya sebagai rahmat, energi itu menular ke ribuan orang. Beliau meminta ketertiban—melarang rokok saat pembacaan Maulid, meminta jemaah duduk rapi. Ini bukan sekadar aturan, ini adalah Adab. Habib Abdullah mengajarkan kita bahwa keberkahan ilmu tidak akan masuk ke dalam hati yang tidak beradab. Di era di mana kita sering "santai" berlebihan dalam beragama, ketegasan beliau mengingatkan kita bahwa majelis ilmu adalah tempat yang sakral.

​Mengenang Sang "Singa" Nurul Musthofa

​Bagian paling menyentuh dari ceramah beliau adalah ketika beliau mulai menceritakan sosok Almarhum Habib Musthofa. Habib Abdullah tidak hanya berbicara sebagai seorang ulama, tapi sebagai seorang kakak yang kehilangan "sayap" pelindungnya.

​Beliau menyebut Habib Musthofa sebagai "Singa"-nya Nurul Musthofa. Mengapa? Karena Habib Musthofa adalah garda terdepan. Beliau adalah sosok yang tidak pernah lelah berkeliling dari satu desa ke desa lain, dari Sukabumi hingga pelosok Jawa Barat, hanya untuk mengenalkan umat kepada Allah dan Rasul-Nya.

​Pernahkah kalian memiliki seseorang yang selalu siap pasang badan untuk kalian? Itulah Habib Musthofa bagi saudara-saudaranya. Habib Abdullah menceritakan bagaimana mereka berempat (bersama Almarhum Habib Hasan dan Habib Gasim) saling bahu-membahu. Ketika satu tiang hilang, beban itu terasa berat. Namun, di sinilah poin persuasifnya: Habib Abdullah tidak menyerah. Beliau mengajak kita semua untuk mendoakan agar dakwah ini terus berlanjut. Ini adalah pesan bagi kita: saat kita kehilangan partner kerja, sahabat, atau keluarga, cara terbaik menghormati mereka adalah dengan melanjutkan perjuangan mereka, bukan larut dalam kesedihan.

​Misteri 3 Hari 3 Malam

​Ada satu cerita mistis dan emosional yang diungkapkan Habib Abdullah. Menjelang wafatnya, Habib Musthofa ternyata tidak pulang ke rumah selama 3 hari 3 malam. Beliau terus menempel kepada kakaknya, Almarhum Habib Hasan bin Jafar Assegaf.

​"Kakak, saya mau pulang dulu, istri saya sudah menunggu," kata Habib Musthofa saat itu. Habib Abdullah menceritakan bahwa itu adalah pamitan terakhir. Padahal, secara hakikat, yang menunggu beliau bukanlah istri di rumah, melainkan Rasulullah SAW dan datuk-datuk beliau di alam sana.

​Cerita ini mengajarkan kita tentang Firasat dan Cinta. Hubungan darah yang dibalut dengan perjuangan dakwah menciptakan ikatan batin yang sulit dinalar logika. Habib Musthofa wafat tepat pada 1 Syaaban, bulannya Rasulullah. Habib Abdullah menekankan bahwa ini bukan kebetulan. Ini adalah tanda penerimaan amal.

​Ajakan untuk Kita

​Menutup tulisannya, Habib Abdullah meminta satu hal yang sederhana namun berat: Dukungan dan Doa. Beliau menyadari bahwa sepeninggal Habib Musthofa dan Habib Hasan, Nurul Musthofa sedang "pincang". Namun dengan kehadiran Habib Gasim dan generasi penerus seperti Habib Umar (anak Habib Musthofa), harapan itu ada.

​Sobat pembaca, pesan dari Habib Abdullah di haul ini jelas:

​Jaga Adab: Di mana pun kita menuntut ilmu, adab adalah kunci.

​Hargai Saudara: Cintai saudaramu, dukung mereka selagi masih ada.

​Lanjutkan Perjuangan: Jangan berhenti berbuat baik hanya karena kita kehilangan motivator kita.

​Mari kita ambil semangat "Singa" dari Habib Musthofa dan keteguhan hati dari Habib Abdullah untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dalam menjalani hidup. Hujan badai bukan alasan untuk berhenti, justru itu saatnya kita membuktikan kesetiaan kita.

Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *