Sobat pembaca, pernahkah kalian merasa kehilangan arah saat ditinggal oleh sosok pemimpin atau panutan? Rasanya seperti kapal kehilangan nahkoda, bukan? Itu mungkin yang dirasakan ribuan jemaah Nurul Musthofa ketika kehilangan dua pilar utamanya, Almarhum Habib Hasan dan Almarhum Habib Musthofa.
Namun, di acara Haul ke-5 Habib Musthofa bin Jafar Assegaf kemarin di Bogor, ada satu pemandangan yang membuat hati kita kembali optimis. Di tengah derasnya hujan yang mengguyur Alun-Alun Bogor, berdiri sosok gagah yang seolah berteriak tanpa suara: "Tenang, kapal ini akan terus berlayar!"
Sosok itu adalah Al-Habib Ghasim bin Jafar Assegaf.
Jika Habib Abdullah adalah "payung" yang mengayomi, maka Habib Ghasim adalah "mesin" yang menggerakkan. Dalam artikel ini, mari kita bedah kenapa sosok Habib Ghasim sangat vital bagi kita, dan kenapa kalian terutama anak muda Bogor dan sekitarnya wajib merapat ke barisan beliau.
Estafet Perjuangan: Bukan Beban, Tapi Kehormatan
Dalam sambutannya, Habib Abdullah bin Jafar Assegaf (kakak tertua) secara khusus menyoroti peran Habib Ghasim. Beliau menyebutkan bahwa sepeninggal Habib Musthofa, tongkat estafet dakwah di wilayah Bogor kini dipegang erat oleh Habib Ghasim.
Ini bukan tugas kaleng-kaleng, Sobat. Bogor adalah basis besar. Habib Musthofa dulu dikenal sebagai "Singa" yang mengaum dari desa ke desa di Jawa Barat. Kini, Habib Ghasim-lah yang melanjutkan auman itu.
Kita bisa melihat keteguhan beliau. Hujan lebat tidak membuatnya mundur. Beliau tetap memimpin, tetap memberikan pengumuman dengan lantang, dan tetap memastikan acara berjalan lancar. Ini adalah pesan persuasif yang kuat buat kita: Tanggung jawab itu tidak boleh luntur kena air hujan.
Bagi kalian yang sedang merasa berat memikul tanggung jawab entah itu skripsi, target kerjaan, atau amanah keluarga lihatlah Habib Ghasim. Beliau kehilangan dua saudara kandung sekaligus partner dakwah, tapi beliau memilih untuk move on dan fight. Energinya menular!
Doa yang "Realistis" dan Membumi
Salah satu momen yang paling saya suka dari gaya Habib Ghasim (dan juga doa-doa yang dipanjatkan di majelis beliau) adalah sifatnya yang sangat relatable alias nyambung banget sama kebutuhan kita sehari-hari.
Coba perhatikan doa-doanya. Beliau tidak hanya mendoakan surga (yang tentu saja tujuan utama), tapi juga mendoakan hal-hal konkret:
"Biar banyak fulus (uang)."
"Biar lunas hutang."
"Biar bisa berangkat Umrah bayar sendiri."
"Biar enggak diolok-olok orang."
Jujur saja, siapa di sini yang enggak mau doanya diaminkan seperti itu?
Habib Ghasim paham betul psikologi jemaahnya. Beliau tahu bahwa untuk berdakwah dengan tenang, perut harus kenyang, hutang harus lunas, dan harga diri harus terjaga.
Ini adalah pendekatan dakwah yang cerdas dan persuasif. Beliau ingin umat Islam, khususnya jemaah Nurul Musthofa, menjadi umat yang kuat secara ekonomi, bukan umat yang lemah. Jadi, kalau kalian butuh booster spiritual sekaligus booster semangat mencari rezeki, majelis Habib Ghasim adalah tempat yang tepat untuk nge-charge energi.
Sang "Event Organizer" Surgawi
Dalam video tersebut, terlihat jelas peran Habib Ghasim sebagai penggerak massa. Beliau dengan rinci mengumumkan jadwal-jadwal besar (Event Akbar):
Isra Mi'raj di Meruya (24 Januari).
Haul Habib Hasan di Masjid Raya Al-A'zam Tangerang (13 Februari).
Rutin Bulanan di Empang Bogor.
Kenapa pengumuman ini penting dan layak jadi bahan tulisan blog? Karena ini menunjukkan Visi.
Majelis yang mati adalah majelis yang hanya mengenang masa lalu. Tapi di tangan Habib Ghasim, Majelis Nurul Musthofa punya agenda masa depan yang jelas. Beliau sibuk merancang pertemuan-pertemuan akbar.
Ini mengajak kita untuk menjadi pribadi yang terencana. Habib Ghasim mengajarkan kita untuk selalu punya "Next Step". Setelah Haul ini, kita mau ke mana? Setelah hujan ini reda, kita mau berbuat apa? Jangan jadi kaum rebahan yang hidup tanpa jadwal. Jadilah penggerak seperti Habib Ghasim!
"Chemistry" Persaudaraan yang Bikin Iri
Ada satu poin emosional yang disinggung oleh Habib Abdullah tentang Habib Ghasim. Dulu mereka berempat (Hasan, Abdullah, Musthofa, Ghasim) adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Sekarang, secara fisik tinggal berdua (Abdullah & Ghasim).
Namun, lihatlah kekompakan mereka di panggung. Habib Ghasim mendukung penuh Habib Abdullah, dan sebaliknya Habib Abdullah memberikan kepercayaan penuh pada Habib Ghasim untuk memegang wilayah Bogor dan Tangerang.
Sobat, ini adalah pelajaran tentang Solidaritas. Di zaman di mana banyak saudara ribut soal warisan atau berebut kekuasaan, Habib Ghasim dan Habib Abdullah menunjukkan indahnya kerukunan. Mereka saling menguatkan di kala sedih.
Kalau kalian punya saudara, akurlah. Kalau kalian punya tim kerja, kompaklah. Kekuatan terbesar bukan pada seberapa hebat individunya, tapi seberapa solid timnya.
Kenapa Kalian Harus Hadir di Majelis Habib Ghasim?
Mungkin kalian bertanya, "Kenapa sih gue harus capek-capek datang ke majelisnya Habib Ghasim, kan bisa streaming?"
Jawabannya ada di Atmosphere (Suasana).
Streaming tidak bisa menggantikan sensasi duduk bersama ribuan orang, merasakan getaran selawat, dan diaminkan langsung oleh seorang dzurriyat (keturunan) Rasulullah yang sedang berjuang meneruskan amanah ayah dan kakak-kakaknya.
Habib Ghasim menawarkan semangat muda. Majelis beliau (Malam Minggu, Malam Sabtu) adalah tempat nongkrong paling positif. Daripada malam minggu kalian habis buat scroll TikTok yang bikin insecure, atau nongkrong enggak jelas yang buang duit, mending merapat ke majelis.
Di sana, kalian dapat ilmu, dapat teman baru, dan insyaallah dapat doa "banyak fulus" yang mustajab itu!
Penutup: Bogor, Siapkan Dirimu!
Sebagai penutup, mari kita apresiasi perjuangan Habib Ghasim. Beliau rela basah kuyup, suaranya mungkin serak, lelahnya pasti luar biasa, tapi senyum dan semangatnya tidak pernah luntur demi melayani umat.
Habib Ghasim adalah bukti bahwa Nurul Musthofa tidak akan pernah padam. Cahaya itu kini bersinar terang di tangan beliau.
Jadi, buat kalian warga Bogor, Depok, Jakarta, dan sekitarnya:
Siapkan jaket kalian, siapkan jas hujan kalian, dan siapkan hati kalian. Event-event besar menanti di depan mata. Jangan sampai ketinggalan kereta keberkahan ini.
Seperti kata Habib Ghasim: Gasskan! Sampai jumpa di majelis berikutnya, Bestie Surgawi!
