Pernah nggak sih kamu merasa capek banget sama rutinitas? Kerja dari pagi ketemu pagi, scroll TikTok sampai jempol keriting, tapi hati tetap merasa "kosong"? Nah, kalau kamu sempat hadir atau nonton siaran langsung Majelis Nurul Musthofa kemarin, ada pesan jleb banget dari Al Habib Abu Bakar Maulad Dawilah yang datang jauh-jauh dari Malang.
Beliau bilang, kehadiran kita di majelis ilmu itu bukan karena kita hebat atau sekadar "pengen" aja. Itu adalah Magnet Rabbani. Panggilan dari Allah lewat daya pikat Baginda Nabi Muhammad SAW. Bayangkan, di saat orang lain sibuk nongkrong nggak jelas, kamu dipilih Allah untuk duduk di antara para pencinta Nabi. Kece banget, kan?
Kenapa Harus Cinta Ulama?
Habib Abu Bakar mengutip sebuah hadis yang bikin kita tenang: ada tiga golongan yang bakal dicintai Allah di hari kiamat. Salah satunya adalah orang yang cinta ilmu dan cinta ulama. Kenapa sih harus sampai segitunya? Karena ulama dan habaib itu adalah "kompas" kita. Tanpa mereka, kita mungkin sudah tersesat di rimba algoritma dunia yang makin nggak jelas ini.
Beliau juga meluruskan satu hal penting soal status "Ummi" Nabi Muhammad SAW. Selama ini mungkin kita pikir "Ummi" itu artinya nggak bisa baca-tulis dalam artian lemah. Eits, salah besar! Justru itu adalah mukjizat. Nabi tidak membaca tulisan manusia karena gurunya langsung adalah Allah SWT. Ilmu para nabi dan ribuan wali itu cuma setetes dari samudera "Nur Muhammad". Jadi, kalau kita nempel sama Nabi, kita nempel sama sumber ilmu yang paling murni.
Kisah Batu yang Mengucapkan Salam
Ada satu cerita keren yang dibagikan Habib Abu Bakar tentang Imam Al-Haddad. Waktu beliau masuk ke kota Madinah, batu-batu kerikil di sana kabarnya mengucapkan salam kepada beliau. Kok bisa? Ya karena beliau sangat "fana" atau cinta mati sama Nabi Muhammad SAW.
Pesan persuasifnya simpel: kalau kamu pengen hidupmu "berasap" alias penuh berkah, jangan jauh-jauh dari selawat. Bangun tidur selawat, di motor selawat, mau tidur selawat lagi. Sampai-sampai, saking terbiasanya, yang mampir ke mimpi kamu bukan lagi mantan yang menyakitkan, tapi Baginda Nabi Muhammad SAW.
Kesimpulan:
Dunia ini sementara, tapi cinta kita ke Nabi itu selamanya. Yuk, istiqomah hadir di majelis. Bukan buat siapa-siapa, tapi buat "nge-charge" roh kita sendiri supaya nggak gampang drop. Sampai ketemu di majelis depan, ya!
