Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Mengendalikan Hawa Nafsu di Akhir Zaman


Ada sebuah peribahasa yang mengatakan, "Musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang tidak terlihat." Dalam perjalanan spiritual kita, musuh itu bernama Hawa Nafsu. Habib Qasim bin Ja'far Assegaf menyampaikan tausiyah yang sangat mendalam tentang bagaimana hawa nafsu sering kali menipu kita, bahkan sering kali nafsu itu datang dengan membungkus dirinya dalam bentuk "kebaikan".

​Di akhir zaman yang penuh fitnah ini, hawa nafsu bukan lagi sekadar soal makan atau minum, tapi soal ego, harga diri, dan keinginan untuk selalu terlihat benar di depan orang lain.

​Jebakan Hawa Nafsu dan "Ulama Su'"

​Habib Qasim mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam mencari guru. Ada fenomena di mana orang-orang menggunakan kedok agama atau jubah ulama, namun isi bicaranya hanya penuh dengan kebencian, caci maki, dan perpecahan. Inilah yang disebut hawa nafsu yang terbungkus agama. Sebagai umat, kita harus cerdas. Ulama yang benar adalah mereka yang bicaranya menyejukkan, yang mengajak kita mencintai Nabi, dan yang membuat kita merasa butuh untuk memperbaiki diri sendiri, bukan sibuk menyalahkan orang lain.

​Nafsu itu seperti kuda liar. Kalau tidak ada penunggang yang ahli, kuda itu akan membawa kita masuk ke jurang. Penunggang ahli itu adalah ilmu agama yang benar dan bimbingan dari ulama yang murni tulus karena Allah.

​Definisi Sejati Kekayaan dan Kemiskinan

​Banyak orang merasa cemas karena tabungannya sedikit. Banyak yang merasa gagal karena belum punya rumah atau mobil mewah. Habib Qasim membalikkan logika itu: "Orang yang miskin bukan orang yang tidak punya duit, tapi orang yang di hatinya tidak ada Allah dan Nabi Muhammad."

​Logikanya begini: Jika Anda punya uang satu triliun tapi hati Anda selalu merasa kurang, itu namanya miskin. Tapi jika Anda hanya punya uang sepuluh ribu tapi hati Anda merasa tenang karena ada Allah, itulah kekayaan yang sesungguhnya. Hawa nafsu selalu ingin "lagi dan lagi" (hubbud dunya), sementara iman selalu mengajarkan rasa cukup (qana'ah).

​Membangun Benteng Spiritual

​Bagaimana cara kita melawan gempuran hawa nafsu ini? Habib Qasim menyarankan beberapa langkah praktis:

​Hidupkan Wirid dan Zikir: Amalan seperti Ratibul Attas atau Ratibul Haddad bukan sekadar bacaan. Itu adalah pagar gaib yang melindungi hati kita dari bisikan setan yang masuk melalui aliran darah.

​Sering-seringlah "Self-Talk" yang Positif: Ingatkan diri sendiri bahwa pujian orang itu semu, dan hinaan orang itu tidak akan merugikan kita jika Allah rida kepada kita.

​Perbanyak Duduk dengan Orang Miskin dan Orang Saleh: Ini akan melunakkan hati yang mulai keras karena terlalu banyak mengejar dunia.

​Hidup ini adalah ujian tentang bagaimana kita mengendalikan "bos" di dalam diri kita (hawa nafsu). Jangan biarkan hawa nafsu yang memegang kendali, tapi biarkan cahaya iman yang membimbing langkah kita. Semoga berkat bimbingan para guru di Majlis Nurul Musthofa, kita semua bisa pulang ke hadirat Allah dengan hati yang tenang (nafsul mutmainnah).

Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *