Seringkali kita merasa bahwa untuk melakukan sesuatu yang besar, kita butuh panggung yang megah, kantor di gedung pencakar langit, atau modal miliaran. Tapi, K.H. Ahmad Bahruddin Zain, pimpinan Ponpes Gordul Fawaid, memberikan perspektif yang berbeda. Beliau membuktikan bahwa kualitas resonansi spiritual tidak ditentukan oleh luasnya lahan.
Kekuatan Niat yang Melampaui Kapasitas Tempat
Ada cerita menarik di balik acara Gondrong Bersholawat. Kiai Bahruddin secara jujur mengakui keraguannya saat muridnya mengusulkan mengundang Majelis Nurul Mustofa ke gang rumahnya. "Ini gang sempit, Nurul Mustofa itu ribuan orang, naruhnya di mana?" Begitulah logika manusia kita bekerja selalu fokus pada keterbatasan fisik.
Namun, apa yang terjadi? Ketika niat sudah bulat untuk memuliakan Nabi, gang yang sempit pun terasa luas. Ini adalah pelajaran tentang scalability spiritual. Kalau niatnya tulus, Allah yang akan melapangkan segalanya. Beliau mengajarkan kita untuk tidak "minder" dengan kondisi saat ini. Mau kamu mulai dari kamar kosan kecil atau dari bisnis sampingan yang sederhana, kalau niatnya untuk kebaikan, keberkahannya nggak akan muat ditampung oleh ruang fisik.
Menghormati Akar: Pentingnya Menjaga Legacy
Kiai Bahruddin juga menekankan pentingnya menghormati para pendahulu (guru dan leluhur). Beliau menyebutkan sanadnya yang menyambung ke Syaikhona Kholil Bangkalan. Ini adalah pesan kuat tentang branding diri yang berbasis akar yang kuat. Kita nggak akan bisa tumbuh besar kalau kita lupa dari mana kita berasal.
Beliau juga memuji anak-anak muda yang mau bergerak di jalur selawat daripada "nanggap rege" atau kegiatan lain yang kurang berfaedah. Ini adalah ajakan untuk kita semua: jadikan masa muda kita sebagai masa investasi keberkahan. Jangan takut dicap "kuno" karena ikut majelis. Justru di majelis itulah, kita sedang membangun fondasi karakter yang nggak akan goyah oleh tren musiman dunia.
