Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Keberkahan Tanpa Batas dari Gang Sempit


Seringkali kita merasa bahwa untuk melakukan sesuatu yang besar, kita butuh panggung yang megah, kantor di gedung pencakar langit, atau modal miliaran. Tapi, K.H. Ahmad Bahruddin Zain, pimpinan Ponpes Gordul Fawaid, memberikan perspektif yang berbeda. Beliau membuktikan bahwa kualitas resonansi spiritual tidak ditentukan oleh luasnya lahan.

​Kekuatan Niat yang Melampaui Kapasitas Tempat

​Ada cerita menarik di balik acara Gondrong Bersholawat. Kiai Bahruddin secara jujur mengakui keraguannya saat muridnya mengusulkan mengundang Majelis Nurul Mustofa ke gang rumahnya. "Ini gang sempit, Nurul Mustofa itu ribuan orang, naruhnya di mana?" Begitulah logika manusia kita bekerja selalu fokus pada keterbatasan fisik.

​Namun, apa yang terjadi? Ketika niat sudah bulat untuk memuliakan Nabi, gang yang sempit pun terasa luas. Ini adalah pelajaran tentang scalability spiritual. Kalau niatnya tulus, Allah yang akan melapangkan segalanya. Beliau mengajarkan kita untuk tidak "minder" dengan kondisi saat ini. Mau kamu mulai dari kamar kosan kecil atau dari bisnis sampingan yang sederhana, kalau niatnya untuk kebaikan, keberkahannya nggak akan muat ditampung oleh ruang fisik.

​Menghormati Akar: Pentingnya Menjaga Legacy

​Kiai Bahruddin juga menekankan pentingnya menghormati para pendahulu (guru dan leluhur). Beliau menyebutkan sanadnya yang menyambung ke Syaikhona Kholil Bangkalan. Ini adalah pesan kuat tentang branding diri yang berbasis akar yang kuat. Kita nggak akan bisa tumbuh besar kalau kita lupa dari mana kita berasal.

​Beliau juga memuji anak-anak muda yang mau bergerak di jalur selawat daripada "nanggap rege" atau kegiatan lain yang kurang berfaedah. Ini adalah ajakan untuk kita semua: jadikan masa muda kita sebagai masa investasi keberkahan. Jangan takut dicap "kuno" karena ikut majelis. Justru di majelis itulah, kita sedang membangun fondasi karakter yang nggak akan goyah oleh tren musiman dunia.

Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *