Kalau kita bicara soal otoritas dan kepercayaan, nggak ada yang lebih kuat daripada "backlink" langsung dari sang sumber. Dalam konteks agama, mencintai keluarga Nabi (Habaib) adalah cara kita mendapatkan validasi spiritual langsung dari Rasulullah SAW. Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf membawakan pesan ini dengan sangat lugas dan penuh keberanian.
Perintah Langit yang Non-Negosiasi
Banyak orang yang mungkin bingung, "Kenapa sih harus cinta Habaib?" Habib Ahmad menjelaskan lewat ayat Al-Qur'an (Surah Asy-Syura: 23). Nabi Muhammad itu nggak minta bayaran, nggak minta kita kirim donasi buat perjuangan beliau. Satu-satunya yang beliau minta sebagai "fee" atas dakwahnya adalah rasa cinta kita kepada keluarga beliau (al-mawaddah fil qurba).
Ini adalah investasi emosional yang paling menguntungkan. Mencintai Habaib bukan berarti kita mengesampingkan orang lain, tapi kita sedang menghormati "darah" Baginda Nabi yang mengalir dalam diri mereka. Di tengah zaman yang penuh fitnah, di mana orang gampang mencaci dan melaknat, menjaga lisan untuk tetap mencintai adalah sebuah prestasi spiritual.
Guru yang Tidak Mencaci: Standar "Influencer" Sejati
Habib Ahmad memberikan standar yang jelas: carilah guru yang tidak hobinya mencaci maki. Nabi Muhammad diutus bukan sebagai pelaknat (la'anan). Jadi, kalau ada sosok yang mengaku membela agama tapi lisannya penuh dengan kebencian, kita patut bertanya: "Ini beneran ikut Nabi nggak?"
Majelis Nurul Musthofa, menurut beliau, adalah tempat kita melatih lisan agar hanya mengeluarkan kata-kata yang baik. Beliau juga mengajak kita untuk meneladani ulama kharismatik seperti K.H. Syukur Ya'qub yang sangat vokal membela kehormatan Habaib. Pesannya jelas: di akhir zaman yang kacau ini, selamatkan dirimu dengan tetap berada di barisan orang-orang yang mencintai Nabi dan keluarganya. Jangan sampai lisan kita jadi penghalang kita masuk surga.
