Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran islam lebih dalam. Membina silahtuhrrahim terhadap semua elemen umat islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rosulullah SAW sebagai hasil dari aktifitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Mengapa Aqidatul Awwam Masih Relevan di 2026?


Pernahkah Anda membayangkan sebuah karya literatur lahir bukan dari meja riset yang melelahkan, melainkan langsung dari "instruksi" ruhani dalam mimpi? Inilah kisah di balik Aqidatul Awwam, kitab tauhid legendaris yang dibedah oleh Habib Abdallah bin Jafar Assegaf dalam majelis malam Rabu kemarin.

​Keajaiban di Balik Bait-Bait Tauhid

​Habib Abdallah menceritakan kembali sejarah yang membuat bulu kuduk berdiri. Sang pengarang, Sayyid Ahmad Al-Marzuki, bermimpi bertemu Rasulullah SAW yang dikelilingi para sahabat. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah memerintahkan beliau untuk menuliskan bait-bait yang jika dihafal, akan menjamin keselamatan dunia dan akhirat.

​"Ini bukan sekadar teks hafalan," tegas Habib Abdallah. Kitab ini adalah peta jalan bagi kita untuk mengenal siapa Tuhan kita dan siapa nabi kita secara mendalam, namun dengan bahasa yang sangat sederhana. Di zaman di mana informasi begitu simpang siur, memiliki pegangan akidah yang kuat adalah sebuah kemewahan yang harus kita miliki.

​Mengapa Kita Butuh Majelis?

​Di era digital seperti sekarang, belajar agama bisa dilakukan lewat layar smartphone. Namun, Habib Abdallah menekankan bahwa keberkahan "tatap muka" di majelis tidak bisa digantikan. Saat kita duduk bersama di Majelis Nurul Musthofa, kita bukan hanya menyerap informasi, tapi juga menyerap energi positif dan doa-doa yang dipanjatkan bersama ribuan orang lainnya.

​Beliau menjelaskan bahwa Aqidatul Awwam pertama kali disyiarkan secara luas di majelis ini sejak awal tahun 2000-an. Tujuannya satu: agar anak muda tidak buta akan fondasi agamanya sendiri. Dengan nada santai namun persuasif, beliau mengajak kita semua untuk menjadikan pembacaan kitab ini sebagai rutinitas yang menenangkan hati.

​Kesimpulan: Bekal untuk Masa Depan

​Menghafal Aqidatul Awwam mungkin terdengar seperti tugas sekolah bagi sebagian orang. Namun, jika kita melihatnya sebagai "asuransi" iman di tengah gempuran ideologi modern, nilai kitab ini menjadi tak terhingga. Habib Abdallah menutup dengan pengingat manis bahwa siapa pun yang menjaga akidahnya, Allah akan menjaga urusan dunianya.

​Jadi, kapan terakhir kali Anda menyempatkan diri duduk di majelis untuk sekadar "me-recharge" iman? Mari bergabung, karena pintu surga selalu terbuka bagi mereka yang mau melangkah mencari ilmu.

Baca juga :




Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *