Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Jangan Merasa Paling Tinggi, Setiap Orang Punya Proses dan Rezekinya Masing-Masing


Jangan merasa paling tinggi, setiap orang punya proses dan rezekinya masing-masing

Ada masa ketika hidup terasa seperti perlombaan. Melihat orang lain lebih sukses, lebih mapan, lebih dikenal, atau lebih cepat mencapai sesuatu, kita bisa tanpa sadar merasa tertinggal.

Sebaliknya, ketika berada di posisi yang lebih baik, muncul godaan untuk melihat orang lain dari atas. Seolah-olah pencapaian hari ini membuat kita lebih tinggi daripada mereka.

Padahal, setiap manusia sedang menjalani perjalanan yang berbeda.

Ada yang sedang membangun dari nol. Ada yang sedang mempertahankan apa yang sudah dimiliki. Ada pula yang terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang melewati ujian yang tidak diketahui orang lain.

Pesan seperti ini terasa semakin dalam ketika kita merenungkan QS Maryam ayat 4, ketika Nabi Zakaria alaihissalam berdoa kepada Allah.

QS Maryam Ayat 4: Doa dari Seorang Hamba yang Menyadari Kelemahannya

Dalam QS Maryam ayat 4, Nabi Zakaria berkata:

“Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah melemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, sedang aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.”

Ayat ini menggambarkan keadaan Nabi Zakaria yang telah lanjut usia dan merasakan kelemahan fisik. Namun, kelemahan tersebut tidak membuat beliau berhenti berharap kepada Allah.

Justru di tengah kondisi yang secara manusiawi tampak sulit, beliau tetap berdoa.

Di sinilah ada pelajaran yang sangat dekat dengan kehidupan kita: jangan mengukur kemungkinan hidup hanya dari keadaan yang terlihat hari ini.

Kalau hari ini seseorang belum berhasil, bukan berarti selamanya dia akan berada di posisi yang sama. Kalau hari ini seseorang sedang berada di atas, bukan berarti dia akan selalu berada di sana.

Manusia hanya melihat satu bagian dari perjalanan. Allah mengetahui keseluruhannya.

Jangan Merasa Paling Tinggi Hanya Karena Sedang Berada di Atas

Pencapaian tentu boleh disyukuri. Mendapat pekerjaan yang baik, memiliki usaha yang berkembang, mempunyai keluarga yang harmonis, atau memperoleh kesempatan yang besar adalah nikmat yang patut disyukuri.

Yang perlu dijaga adalah cara hati memandang pencapaian tersebut.

Jangan sampai keberhasilan membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Sebab, apa yang kita miliki hari ini bukan hanya hasil dari kemampuan pribadi. Ada pertolongan Allah, kesempatan, keadaan, orang-orang yang membantu, serta berbagai hal yang berada di luar kendali kita.

Karena itu, semakin banyak yang dimiliki seharusnya semakin mudah seseorang bersyukur, bukan semakin mudah merendahkan.

Orang yang hari ini berada di bawah belum tentu akan selamanya di bawah. Begitu juga orang yang sedang berada di atas tidak perlu merasa aman dari perubahan keadaan.

Setiap Orang Sedang Berjalan di Jalannya Sendiri

Salah satu sumber kegelisahan terbesar adalah kebiasaan membandingkan perjalanan sendiri dengan perjalanan orang lain.

Teman sebaya mungkin sudah memiliki rumah. Orang lain mungkin sudah memiliki bisnis. Ada yang kariernya terlihat melesat. Ada pula yang sudah mencapai sesuatu yang sejak lama kita impikan.

Lalu kita bertanya dalam hati, “Kenapa hidupku belum seperti mereka?”

Pertanyaan itu sebenarnya tidak selalu salah. Tetapi kalau terus dipelihara, kita bisa lupa melihat perjalanan sendiri.

Setiap orang memiliki kondisi, tanggung jawab, kesempatan, kemampuan, dan ujian yang berbeda. Karena itu, ukuran waktu seseorang tidak bisa begitu saja dijadikan ukuran untuk kehidupan orang lain.

Daripada sibuk menghitung seberapa jauh orang lain sudah berjalan, lebih baik bertanya kepada diri sendiri:

  • Apa yang bisa saya perbaiki hari ini?
  • Apakah saya masih berusaha dengan cara yang halal?
  • Apakah saya masih menjaga doa?
  • Apakah saya sudah mensyukuri nikmat yang ada?

Pertanyaan seperti itu membuat perhatian kembali kepada sesuatu yang memang bisa kita kerjakan.

Rezeki Tidak Perlu Dijadikan Alasan untuk Saling Merendahkan

Rezeki juga sering menjadi ukuran seseorang dalam memandang dirinya dan orang lain.

Ketika penghasilan meningkat, seseorang bisa merasa berhasil. Ketika sedang kesulitan, ia merasa hidupnya jauh tertinggal.

Padahal, rezeki tidak hanya berbentuk angka di rekening.

Kesehatan, keluarga, ilmu, waktu, kesempatan berbuat baik, teman yang tulus, ketenangan hati, bahkan kemampuan untuk kembali memperbaiki diri juga merupakan nikmat yang layak disyukuri.

Kalau ingin memahami sudut pandang ini lebih jauh, pembahasan tentang rezeki yang tidak selalu berupa uang bisa menjadi bahan renungan yang menarik.

Dengan begitu, kita tidak mudah merasa paling berhasil hanya karena memiliki sesuatu yang terlihat oleh manusia.

Berusaha Tetap Penting, Tawakal Bukan Berarti Pasrah

Menerima bahwa setiap orang memiliki jalan masing-masing bukan berarti kita berhenti berusaha.

Justru seorang muslim tetap diperintahkan untuk berikhtiar.

Kalau ingin mendapatkan pekerjaan, cari dan persiapkan diri. Kalau ingin membangun usaha, belajar dan perbaiki strategi. Kalau ingin memiliki ilmu, luangkan waktu untuk belajar.

Setelah melakukan bagian yang mampu kita lakukan, barulah hati belajar menyerahkan hasil kepada Allah.

Inilah yang membuat tawakal berbeda dari sekadar menyerah.

Menyerah berkata, “Saya tidak bisa melakukan apa-apa.”

Sedangkan tawakal berkata, “Saya akan melakukan yang terbaik, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.”

Prinsip ini juga membuat kita tidak terlalu tinggi ketika berhasil dan tidak terlalu hancur ketika gagal.

Jangan Iri dengan Bab Kehidupan Orang Lain

Kita sering melihat hasil akhir orang lain tanpa mengetahui proses panjang yang mereka jalani.

Kita melihat seseorang berhasil, tetapi tidak melihat malam-malam ketika dia harus bersabar.

Kita melihat bisnisnya berkembang, tetapi tidak melihat kegagalan yang pernah dialaminya.

Kita melihat kehidupannya tampak nyaman, tetapi tidak mengetahui ujian yang mungkin sedang dia sembunyikan.

Karena itu, membandingkan halaman kehidupan kita dengan halaman kehidupan orang lain memang tidak pernah benar-benar adil.

Bahkan ketika sedang berada dalam keadaan sulit, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah sedang menjauhkan kita dari kebaikan.

Bisa jadi kita sedang belajar sesuatu yang belum kita pahami manfaatnya hari ini.

Yang Perlu Dijaga Bukan Hanya Pencapaian, tetapi Hati

Kesuksesan tanpa kerendahan hati bisa menjadi ujian. Begitu pula kesulitan tanpa kesabaran bisa membuat seseorang kehilangan harapan.

Maka, apa pun posisi kita sekarang, ada dua hal yang sama-sama penting: tetap rendah hati ketika mendapatkan nikmat dan tetap berharap ketika menghadapi kesulitan.

Kalau sedang berada di atas, jangan merendahkan yang sedang berjuang.

Kalau sedang berada di bawah, jangan merasa kehidupan akan selalu seperti sekarang.

Dan kalau melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tidak perlu menjadikan pencapaian mereka sebagai alasan untuk membenci diri sendiri.

Doakan kebaikan untuk mereka, lalu kembali mengurus perjalanan kita sendiri.

Allah Mengetahui Proses yang Tidak Dilihat Manusia

QS Maryam ayat 4 mengingatkan kita pada sosok Nabi Zakaria yang datang kepada Allah dalam keadaan lemah dan lanjut usia, tetapi tetap membawa harapan melalui doa.

Ini bukan sekadar tentang meminta sesuatu kepada Allah. Ada ketundukan di dalamnya: mengakui keterbatasan diri sekaligus tetap percaya kepada Allah.

Karena itu, jangan terlalu cepat menilai kehidupan seseorang dari apa yang terlihat.

Seseorang mungkin sedang berada di awal perjalanan. Seseorang yang lain mungkin sedang berada di tengah ujian. Ada pula yang sedang menikmati hasil dari perjuangan panjang yang tidak pernah kita lihat.

Setiap orang punya prosesnya masing-masing. Setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Dan rezeki setiap manusia berada dalam ketetapan Allah.

Tugas kita bukan merasa paling tinggi atau sibuk menghitung pencapaian orang lain.

Tugas kita adalah terus memperbaiki diri, berusaha dengan cara yang baik, menjaga doa, mensyukuri apa yang sudah diberikan, dan tetap rendah hati ketika mendapatkan nikmat.

Sebab pada akhirnya, bukan siapa yang paling cepat sampai yang menjadi ukuran utama, melainkan bagaimana kita menjalani perjalanan tersebut dengan tetap dekat kepada Allah.

Kalau sedang merasa tertinggal, jangan putus asa. Kalau sedang berhasil, jangan sombong. Jalani bagianmu dengan sebaik mungkin, karena Allah lebih mengetahui kapan dan bagaimana setiap kebaikan menemukan waktunya.


Catatan: QS Maryam ayat 4 dalam konteksnya merupakan doa Nabi Zakaria alaihissalam yang menyampaikan kelemahan dirinya dan keyakinannya bahwa ia tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada Allah. Kalimat tentang setiap orang memiliki proses dan rezeki masing-masing merupakan refleksi dari pesan tersebut, bukan terjemahan literal ayat.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *