Ada satu hal yang kadang sulit kita terima: orang yang memberikan nasihat kepada kita belum tentu sudah sempurna dalam menjalani hidupnya.
Dia mungkin masih punya kekurangan. Bisa saja dia pernah melakukan kesalahan yang sama. Bahkan mungkin kehidupannya sendiri masih jauh dari apa yang sedang dia nasihatkan kepada kita.
Tapi apakah itu berarti semua nasihatnya harus kita abaikan?
Belum tentu.
Karena terkadang, seseorang memang tidak sempurna, tetapi dia bisa menunjukkan sesuatu yang sedang kurang dalam diri kita.
Tidak Semua Nasihat Harus Datang dari Orang yang Sempurna
Kita sering punya standar yang cukup tinggi terhadap orang yang memberikan nasihat.
Kita berpikir, “Kalau dia sendiri masih melakukan kesalahan, kenapa harus mendengarkan perkataannya?”
Pemikiran seperti itu memang bisa dimengerti. Kita tentu ingin menerima nasihat dari orang yang perkataan dan perbuatannya sejalan.
Namun, manusia bukan makhluk yang sempurna.
Seseorang bisa saja masih berjuang memperbaiki dirinya, tetapi pada saat yang sama mampu melihat kesalahan yang sedang kita lakukan.
Seorang yang pernah gagal dalam mengatur waktu, misalnya, tetap bisa mengingatkan kita agar tidak menyia-nyiakan waktu. Pengalaman buruk yang pernah dia alami justru mungkin membuatnya lebih memahami akibat dari kesalahan tersebut.
Jadi, jangan buru-buru menolak sebuah nasihat hanya karena orang yang menyampaikannya juga memiliki kekurangan.
Bedakan Antara Siapa yang Berbicara dan Apa yang Disampaikan
Ini bukan berarti kita harus menerima semua perkataan orang lain tanpa berpikir.
Justru kita perlu belajar memilah.
Lihat isi nasihatnya. Pikirkan apakah perkataan tersebut memang masuk akal. Perhatikan apakah ada bagian dari diri kita yang memang perlu diperbaiki.
Kalau ternyata ada kebenaran di dalamnya, tidak ada salahnya mengambil manfaat.
Sebaliknya, kalau nasihat tersebut hanya berupa penghinaan, merendahkan, atau sengaja digunakan untuk menjatuhkan, kita juga tidak harus memasukkannya ke dalam hati.
Karena menerima nasihat bukan berarti menyerahkan kendali atas harga diri kita kepada orang lain.
Mungkin Dia Sedang Menunjukkan Kekurangan yang Tidak Kita Sadari
Ada kekurangan dalam diri kita yang terkadang lebih mudah dilihat oleh orang lain daripada oleh diri sendiri.
Kita terlalu terbiasa dengan kebiasaan sendiri. Sesuatu yang menurut kita biasa saja bisa jadi ternyata mengganggu orang lain.
Kita mungkin merasa sudah cukup sabar, padahal sebenarnya sering memotong pembicaraan. Kita merasa sudah perhatian, tetapi mungkin masih sering mengabaikan orang terdekat.
Di sinilah nasihat bisa menjadi cermin.
Bukan berarti orang yang menasihati kita pasti benar dalam segala hal. Tetapi perkataannya bisa menjadi kesempatan untuk berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri:
“Jangan-jangan ada sesuatu dalam diriku yang memang perlu diperbaiki?”
Pertanyaan sederhana seperti itu terkadang jauh lebih bermanfaat daripada langsung sibuk mencari kesalahan orang yang memberikan nasihat.
Jangan Menolak Nasihat Hanya Karena Tidak Suka kepada Orangnya
Ini mungkin bagian yang paling sulit.
Kita cenderung lebih mudah menerima nasihat dari orang yang kita sukai. Sebaliknya, ketika nasihat datang dari seseorang yang tidak terlalu kita sukai, kita lebih mudah mencari alasan untuk menolaknya.
Padahal, kebenaran tidak selalu datang dari orang yang kita harapkan.
Bisa saja orang yang selama ini tidak terlalu dekat dengan kita justru mengatakan sesuatu yang membuat kita sadar terhadap kesalahan sendiri.
Kalau memang perkataannya benar, mengambil pelajaran tidak akan membuat kita menjadi lebih rendah.
Justru kemampuan untuk menerima kebenaran meskipun datang dari orang yang tidak kita sukai merupakan bentuk kedewasaan.
Tetap Kritis, Tapi Jangan Terlalu Cepat Menutup Diri
Menerima nasihat bukan berarti menjadi orang yang mudah dipengaruhi.
Kita tetap boleh bertanya. Kita boleh mempertimbangkan konteks. Kita juga boleh tidak setuju jika alasan yang diberikan memang tidak tepat.
Yang perlu dihindari adalah sikap menolak sebelum mendengarkan.
Begitu seseorang mulai berbicara, kita langsung sibuk mencari kekurangannya agar nasihat tersebut bisa dianggap tidak valid.
Padahal, kalau terus seperti itu, kita mungkin kehilangan kesempatan untuk belajar.
Dalam sebuah nasihat, ambil bagian yang memang bermanfaat. Kalau ada yang tidak sesuai, cukup tinggalkan. Tidak semua perkataan harus diperdebatkan.
Nasihat yang Baik Seharusnya Membawa Kita kepada Perbaikan
Pada akhirnya, ukuran yang penting bukan sekadar siapa yang berbicara, tetapi apa dampak yang kita ambil setelah mendengarnya.
Kalau sebuah nasihat membuat kita sadar bahwa ada sikap yang perlu diperbaiki, ambillah sebagai bahan introspeksi.
Kalau nasihat tersebut membuat kita semakin rendah hati, semakin berhati-hati dalam berbicara, dan semakin sadar bahwa diri sendiri masih memiliki banyak kekurangan, berarti ada pelajaran yang bisa diambil.
Hal ini juga berkaitan dengan bagaimana kita menerima penilaian dari orang lain. Kita tidak perlu membiarkan semua komentar menentukan nilai diri, tetapi kritik yang benar tetap layak dipertimbangkan. Belajar menghadapi penilaian orang lain tanpa kehilangan ketenangan bisa menjadi bagian dari proses tersebut.
Kalau Menemukan Kekurangan, Jangan Berhenti pada Rasa Malu
Kadang setelah menerima nasihat, kita justru merasa malu karena menyadari ada kesalahan dalam diri sendiri.
Perasaan itu wajar.
Tetapi jangan berhenti di sana.
Kesadaran seharusnya dilanjutkan dengan perubahan.
Kalau selama ini mudah marah, belajar menahan diri. Kalau sering mengabaikan orang lain, mulai belajar lebih peduli. Kalau terlalu keras kepada orang lain, coba belajar melihat keadaan dari sudut pandang yang berbeda.
Tidak harus berubah dalam satu malam.
Perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih berarti daripada sekadar merasa bersalah lalu mengulang kesalahan yang sama.
Kita Semua Masih Sama-Sama Belajar
Mungkin inilah pesan paling sederhana dari kalimat pada gambar tersebut.
Orang yang menasihati kita juga manusia.
Dia punya kekurangan. Kita juga punya kekurangan.
Dia mungkin masih berusaha memperbaiki dirinya. Kita pun sedang berada dalam proses yang sama.
Jadi, tidak perlu merasa bahwa menerima nasihat berarti mengakui diri kita lebih buruk daripada orang yang menasihati.
Begitu juga sebaliknya, jangan merasa lebih baik hanya karena kita sedang memberikan nasihat kepada seseorang.
Nasihat seharusnya menjadi jalan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi.
Ada kalanya kita menjadi orang yang menasihati. Ada kalanya kita menjadi orang yang dinasihati. Keduanya sama-sama membutuhkan kerendahan hati.
Dan ketika kita menyadari bahwa diri sendiri juga memiliki banyak kekurangan, kita akan lebih mudah memberikan nasihat dengan cara yang lembut dan menerima nasihat tanpa merasa direndahkan.
Penutup: Ambil Pelajarannya, Bukan Kesombongannya
Tidak semua orang yang menasihati kita adalah orang yang sempurna.
Tetapi ketidaksempurnaan mereka tidak otomatis membuat semua perkataannya salah.
Kalau ada nasihat yang benar, ambil manfaatnya.
Kalau ada kritik yang memang menunjukkan kesalahan kita, jadikan bahan evaluasi.
Kalau ada perkataan yang hanya bertujuan menjatuhkan, tidak perlu menjadikannya beban hati.
Yang paling penting, jangan sampai kita terlalu sibuk menghitung kekurangan orang yang menasihati sampai lupa melihat bagian yang memang perlu diperbaiki dalam diri sendiri.
Karena bisa jadi, orang yang sedang kita anggap banyak kekurangan itu justru sedang menunjukkan satu bagian yang selama ini tidak kita sadari dalam diri kita.
Terima nasihat dengan pikiran yang jernih, perbaiki diri dengan hati yang rendah, dan jangan merasa lebih baik hanya karena sedang menjadi orang yang menasihati.
Setiap manusia masih dalam perjalanan. Tidak ada yang benar-benar selesai memperbaiki dirinya.
