Di tengah kehidupan yang semakin cepat, manusia bisa saja terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi diam-diam hatinya sedang lelah. Rutinitas berjalan, pekerjaan terus dikejar, urusan dunia datang silih berganti, sementara hubungan hati dengan Allah terkadang justru semakin jauh.
Karena itu, majelis ilmu dan haul sering kali menjadi ruang untuk berhenti sejenak. Bukan sekadar berkumpul, mendengarkan tausiah, lalu pulang seperti biasa, tetapi kesempatan untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya ke mana arah hidup kita?
Pesan yang disampaikan Habib Jindan bin Novel dalam Haul Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi di Solo menjadi pengingat tentang hal tersebut. Haul yang mempertemukan begitu banyak jamaah bukan hanya menghadirkan suasana haru dan kecintaan kepada para salaf, tetapi juga membawa pesan penting tentang bagaimana seorang muslim seharusnya menjalani kehidupannya.
Majelis Ilmu Bisa Menjadi Telaga bagi Hati yang Lelah
Dalam tausiah tersebut, majelis ilmu diibaratkan sebagai Nahrul Hayah, sebuah telaga kehidupan. Gambaran ini terasa begitu dekat dengan kondisi manusia hari ini.
Ada orang yang tubuhnya sehat tetapi hatinya terasa kosong. Ada pula yang memiliki banyak kesibukan, tetapi kehilangan ketenangan. Di sinilah majelis ilmu memiliki peran yang tidak selalu terlihat secara langsung.
Ketika seseorang duduk bersama orang-orang yang mengingat Allah, mendengarkan nasihat ulama, membaca shalawat, dan mengenang perjuangan para salaf, ada kesempatan bagi hati untuk kembali mendapatkan arah.
Itulah sebabnya kehadiran di majelis tidak seharusnya hanya diukur dari berapa banyak ilmu yang berhasil dicatat. Bisa jadi, satu nasihat yang benar-benar masuk ke dalam hati justru menjadi awal perubahan besar dalam kehidupan seseorang.
Haul Solo sendiri merupakan salah satu momentum besar yang mempertemukan jamaah untuk mengenang Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, penyusun Mawlid Simtuddurar. Rangkaian Haul Solo 2026 bahkan berlangsung dalam beberapa agenda, mulai dari rauhah hingga haul dan maulid. Informasi rangkaian Haul Solo 2026 sebelumnya juga telah dibagikan untuk jamaah yang ingin mengetahui jadwal kegiatannya.
Bukan Sekadar Mengaku Mengikuti Salaf
Salah satu pesan yang paling penting adalah tentang bagaimana meneruskan jalan para salafus shalih.
Mengikuti para salaf tentu tidak berhenti pada rasa cinta, pakaian, istilah, atau sekadar menghadiri majelis. Ada jalan hidup yang perlu diteruskan melalui amal dan akhlak.
Dalam pesan yang disampaikan, terdapat beberapa fondasi yang menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut: amal yang bersih, ilmu syariat, sikap wara', akhlak mulia, serta khasyyah atau rasa takut kepada Allah.
Lima hal ini sebenarnya saling berkaitan. Ilmu membimbing seseorang agar mengetahui mana yang benar. Amal menjadi bukti bahwa ilmu tersebut tidak berhenti di kepala. Wara' membuat seseorang berhati-hati. Akhlak menunjukkan buah dari perjalanan tersebut dalam kehidupan sosial. Sementara khasyyah menjaga hati agar tidak merasa aman dari pengawasan Allah.
Karena itu, ukuran keberhasilan seseorang dalam meneladani orang saleh bukan hanya seberapa banyak kisah mereka yang diketahui, tetapi seberapa jauh keteladanan tersebut memengaruhi perilaku sehari-hari.
Ilmu Harus Membuat Hati Semakin Takut kepada Allah
Di zaman ketika informasi agama bisa ditemukan hanya dengan beberapa sentuhan layar, tantangan umat bukan lagi semata-mata mendapatkan informasi. Tantangannya adalah memastikan bahwa ilmu tersebut benar dan kemudian mengamalkannya.
Ilmu yang bermanfaat semestinya membuat seseorang semakin mengenal batas antara yang halal dan haram, semakin menjaga ucapan, semakin berhati-hati dalam bertindak, dan semakin sadar bahwa seluruh perbuatannya akan dipertanggungjawabkan.
Karena itu, krisis ilmu bukan hanya terjadi ketika seseorang tidak mengetahui sesuatu. Krisis yang lebih berbahaya adalah ketika pengetahuan semakin banyak, tetapi rasa takut kepada Allah justru semakin tipis.
Para ulama terdahulu memberikan contoh bahwa ilmu dan amal tidak dapat dipisahkan. Mereka menjaga ibadah wajib sekaligus memperhatikan amalan-amalan sunnah yang mungkin dianggap kecil oleh sebagian orang.
Salat berjamaah, Dhuha, Witir, membaca Al-Qur'an, menjaga lisan, dan berbagai amal kebaikan menjadi bagian dari kebiasaan yang terus dipelihara. Bukan untuk mendapatkan pengakuan manusia, tetapi karena hati mereka memiliki rasa takut kehilangan rida Allah.
Jangan Sampai Hidup Hanya Sibuk Mencari Penilaian Manusia
Salah satu penyakit yang sering tidak disadari adalah terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia.
Kita ingin dianggap baik oleh semua orang. Ingin pendapat kita diterima. Ingin tidak ada yang kecewa. Ingin mendapatkan pujian. Padahal, memenuhi seluruh keinginan manusia adalah sesuatu yang hampir mustahil.
Hari ini seseorang memuji, besok orang yang sama bisa saja mengkritik. Ketika mengikuti keinginan satu kelompok, mungkin kita justru mengecewakan kelompok yang lain.
Karena itu, menjadikan rida Allah sebagai tujuan utama memberikan ketenangan yang berbeda. Bukan berarti seorang muslim boleh mengabaikan perasaan orang lain atau bersikap kasar. Justru sebaliknya, kita tetap menjaga akhlak, tetapi tidak menjadikan penilaian manusia sebagai kompas utama kehidupan.
Ketika pilihan hidup harus berhadapan dengan tekanan lingkungan, prinsip ini menjadi sangat penting. Seorang muslim perlu memiliki keberanian untuk tetap berada di jalan yang diyakininya benar selama sesuai dengan tuntunan agama.
Haul Seharusnya Mengubah Sesuatu Setelah Kita Pulang
Inilah bagian yang sering terlupakan.
Suasana majelis bisa membuat hati tersentuh. Nasihat ulama bisa membuat mata berkaca-kaca. Shalawat dan doa bersama mampu menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Tetapi setelah acara selesai, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Di situlah sebenarnya ujian dimulai.
Apakah salat kita menjadi lebih terjaga? Apakah hubungan dengan orang tua menjadi lebih baik? Apakah lisan mulai dikurangi dari perkataan yang menyakiti? Apakah kebiasaan buruk yang selama ini dipelihara mulai ditinggalkan?
Jika ada perubahan meskipun kecil, maka majelis tersebut telah meninggalkan jejak yang berarti.
Istiqamah memang tidak selalu berbentuk perubahan besar. Kadang ia hadir dalam keputusan sederhana untuk kembali membaca Al-Qur'an setiap hari, menjaga salat tepat waktu, meminta maaf kepada seseorang, memperbaiki hubungan keluarga, atau meninggalkan satu kebiasaan yang selama ini merusak hati.
Pesan tentang istiqamah seperti ini juga pernah menjadi bagian penting dalam pembahasan tentang keteladanan Habib Musthofa. Kisah tentang ilmu dan istiqamah Habib Musthofa mengingatkan bahwa konsistensi dalam kebaikan justru menjadi salah satu hal yang membuat amal memiliki jejak panjang.
Menghidupkan Kembali Hati yang Mulai Lelah
Pada akhirnya, Haul Solo bukan hanya tentang mengenang sosok yang telah wafat. Ada pesan yang jauh lebih personal untuk setiap orang yang hadir maupun yang membaca dan mendengarkan nasihatnya.
Kita semua sedang berjalan menuju satu tujuan yang sama. Dunia hanya tempat singgah, sementara waktu terus berkurang tanpa pernah menunggu kesiapan manusia.
Maka pertanyaan terpenting bukanlah seberapa lama kita sudah mengikuti majelis, berapa banyak kitab yang sudah dibaca, atau berapa banyak kisah ulama yang sudah diketahui.
Pertanyaannya adalah: apakah semua itu sudah membuat hati kita lebih dekat kepada Allah?
Jalan para salaf bukan sekadar cerita masa lalu. Ia merupakan teladan tentang bagaimana ilmu diterjemahkan menjadi amal, bagaimana amal dijaga dengan keikhlasan, bagaimana akhlak dipelihara, dan bagaimana hati terus diarahkan untuk mencari rida Allah.
Semoga setiap majelis yang kita datangi tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga meninggalkan perubahan. Semoga langkah menuju majelis menjadi awal untuk memperbaiki diri, dan langkah pulang menjadi awal untuk menjalani kehidupan dengan hati yang lebih sadar kepada Allah.
Karena bisa jadi, keberkahan sebuah majelis bukan hanya terasa ketika kita berada di dalamnya, tetapi justru terlihat dari siapa diri kita setelah meninggalkannya.
