Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Berubah Menjadi Lebih Baik Itu Pilihan, Merasa Paling Baik Justru Kesalahan


Ilustrasi chibi seorang pemuda merenungkan pentingnya memperbaiki diri dan menjaga hati agar tidak merasa paling baik dari orang lain.

Ada satu hal yang kadang tidak kita sadari ketika sedang berusaha memperbaiki diri: semakin banyak kita belajar, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk menjaga hati.

Awalnya, kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Kita mulai belajar agama, memperbaiki ibadah, menjaga perkataan, meninggalkan kebiasaan buruk, dan berusaha memperlakukan orang lain dengan lebih baik.

Namun, di tengah perjalanan itu, ada satu jebakan yang perlu diwaspadai. Tanpa sadar, kita mulai merasa lebih baik daripada orang lain. Kita merasa lebih paham, lebih benar, lebih pantas dihormati, atau bahkan merasa bahwa orang yang belum berubah seperti kita adalah orang yang buruk.

Padahal, berubah menjadi lebih baik adalah pilihan yang patut disyukuri. Sementara merasa diri paling baik justru bisa menjadi awal dari kesombongan.

Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi proses memperbaiki diri agar tidak terjebak dalam perasaan lebih tinggi daripada orang lain?

1. Memperbaiki Diri Itu Penting, Tetapi Menjaga Hati Juga Penting

Setiap orang tentu memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang sejak muda sudah terbiasa menjaga ibadah, ada yang baru mulai belajar ketika dewasa, dan ada pula yang masih berjuang meninggalkan kebiasaan lama yang kurang baik.

Kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh perjalanan seseorang hanya dari apa yang terlihat di hadapan kita.

Bisa jadi seseorang yang hari ini masih memiliki banyak kekurangan sedang berusaha memperbaiki dirinya secara perlahan. Bisa juga orang yang terlihat biasa saja ternyata menyimpan kebaikan yang tidak pernah diketahui siapa pun.

Karena itu, ketika kita mendapatkan kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik, jangan sampai kesempatan tersebut membuat kita memandang rendah orang lain.

Kalau hari ini kita lebih rajin beribadah, bersyukurlah. Kalau sekarang kita lebih mampu menjaga perkataan, pertahankan. Kalau dahulu mudah marah dan sekarang mulai bisa mengendalikan diri, teruskan proses tersebut.

Namun, jangan menjadikan perubahan itu sebagai alasan untuk merasa lebih mulia daripada orang lain.

Perbaikan diri seharusnya membuat kita semakin sadar akan kekurangan sendiri, bukan semakin sibuk mencari kekurangan orang lain.

2. Merasa Paling Baik Bisa Membuat Kita Sulit Menerima Nasihat

Salah satu tanda yang perlu kita waspadai adalah ketika hati mulai merasa bahwa diri sendiri selalu benar.

Saat ada orang yang memberikan masukan, kita langsung tersinggung. Ketika seseorang mengingatkan kesalahan kita, kita sibuk mencari alasan. Bahkan, ketika orang lain memiliki pendapat berbeda, kita buru-buru menganggap mereka tidak memahami persoalan.

Kalau kebiasaan ini terus dipelihara, kita bisa kehilangan kesempatan untuk belajar.

Sebab, orang yang merasa dirinya sudah paling baik biasanya lebih sibuk mempertahankan citra daripada memperbaiki kekurangan.

Padahal, nasihat yang baik tidak selalu datang dari orang yang lebih tua, lebih berpendidikan, atau terlihat lebih saleh daripada kita. Terkadang, seseorang yang masih memiliki banyak kekurangan justru menyampaikan sesuatu yang benar dan layak kita renungkan.

Belajar menerima nasihat bukan berarti kita harus menyetujui semua perkataan orang lain. Kita tetap perlu mempertimbangkan isi nasihat tersebut dengan bijak. Namun, jangan menolaknya hanya karena kita merasa lebih baik daripada orang yang menyampaikannya.

Jangan sampai keinginan untuk terlihat benar membuat kita sulit mengakui kesalahan sendiri.

3. Semakin Banyak Ilmu, Semakin Besar Tanggung Jawab untuk Menjaga Adab

Ilmu adalah sesuatu yang sangat berharga. Dengan ilmu, kita dapat membedakan mana yang benar dan salah, memahami ajaran agama dengan lebih baik, serta mengambil keputusan secara lebih bijaksana.

Akan tetapi, ilmu tidak seharusnya berhenti sebagai sesuatu yang kita ketahui. Ilmu juga perlu tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Misalnya, kita mengetahui pentingnya menjaga lisan, tetapi masih senang mempermalukan orang lain. Kita memahami larangan merendahkan sesama, tetapi mudah mencela orang yang belum memahami sesuatu. Kita sering mendengar nasihat tentang kerendahan hati, tetapi merasa tidak pantas menerima kritik.

Di sinilah kita perlu kembali memeriksa diri.

Jangan hanya bertanya seberapa banyak ilmu yang sudah kita pelajari. Tanyakan juga apakah ilmu tersebut membuat kita semakin sabar, semakin santun, dan semakin berhati-hati dalam memperlakukan orang lain.

Jika ingin memahami lebih jauh hubungan antara pengetahuan dan perilaku, kamu juga bisa membaca pembahasan tentang mengapa adab harus didahulukan sebelum ilmu.

Sebab, pengetahuan yang luas semestinya membantu kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana, bukan merasa memiliki kedudukan lebih tinggi daripada orang lain.

4. Jangan Mengukur Kemuliaan Diri dengan Membandingkan Orang Lain

Kita sering merasa lebih baik karena membandingkan diri dengan orang yang menurut kita masih memiliki banyak kekurangan.

Ketika melihat seseorang jarang beribadah, kita merasa diri lebih rajin. Ketika mendengar orang lain berbicara kasar, kita merasa diri lebih santun. Ketika melihat seseorang melakukan kesalahan, kita merasa bahwa diri sendiri jauh lebih baik.

Padahal, membandingkan diri seperti itu tidak selalu menghasilkan penilaian yang adil.

Kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan orang lain. Kita tidak mengetahui seluruh perjuangannya, kesulitan yang sedang dihadapinya, atau kebaikan yang mungkin selama ini ia lakukan secara diam-diam.

Lebih dari itu, kita juga tidak mengetahui bagaimana perjalanan hidup kita sendiri akan berakhir.

Karena itu, daripada menghabiskan waktu untuk merasa lebih baik daripada orang lain, lebih bermanfaat jika kita menggunakan waktu tersebut untuk memperbaiki kekurangan diri.

Kalau melihat orang lain melakukan kesalahan, jadikan itu pengingat agar kita lebih berhati-hati. Kalau melihat seseorang memiliki kelebihan, jadikan itu kesempatan untuk belajar. Kalau melihat orang lain belum berubah, jangan buru-buru merendahkannya.

Kita bisa berusaha menjaga prinsip tanpa harus meremehkan orang yang sedang berada dalam proses belajar.

5. Rendah Hati Bukan Berarti Merendahkan Diri Sendiri

Ada hal yang juga perlu dipahami: rendah hati tidak sama dengan menganggap diri sendiri tidak memiliki nilai.

Kita tetap boleh menghargai usaha yang sudah dilakukan. Kita boleh bersyukur atas kemampuan yang dimiliki. Kita juga boleh merasa senang ketika berhasil meninggalkan kebiasaan buruk dan menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai rasa syukur berubah menjadi kesombongan.

Ketika berhasil melakukan sesuatu yang baik, akui bahwa itu merupakan kesempatan yang patut disyukuri. Jangan merasa bahwa keberhasilan tersebut otomatis membuat kita lebih mulia daripada orang lain.

Ketika mendapatkan pujian, terimalah dengan sewajarnya tanpa harus membangun anggapan bahwa kita selalu lebih unggul. Ketika melakukan kesalahan, akuilah tanpa sibuk mencari pembenaran.

Rendah hati berarti mampu melihat diri secara lebih jujur. Kita mengetahui kelebihan tanpa harus membanggakannya secara berlebihan, sekaligus menyadari kekurangan tanpa perlu berpura-pura sempurna.

Dengan begitu, kita bisa terus berkembang tanpa kehilangan sikap hormat kepada sesama.

6. Belajar dari Kesalahan Tanpa Sibuk Menghakimi

Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan tingkat pemahaman, pengalaman, dan kebiasaan adalah sesuatu yang wajar. Tidak semua orang memulai perjalanan dari titik yang sama.

Ada orang yang membutuhkan waktu lebih lama untuk meninggalkan kebiasaan buruk. Ada yang baru memahami pentingnya menjaga ucapan setelah mengalami konflik. Ada pula yang baru menyadari kesalahannya setelah mendapatkan nasihat dari orang lain.

Kalau kita sudah lebih dahulu memahami sesuatu, gunakan pemahaman itu untuk membawa manfaat.

Ketika perlu menasihati, sampaikan dengan cara yang baik. Ketika melihat kesalahan, bedakan antara mengingatkan dan mempermalukan. Ketika seseorang belum memahami suatu hal, berikan penjelasan tanpa menjadikan kekurangannya sebagai bahan untuk merasa unggul.

Bukan berarti kita harus membenarkan semua perilaku. Kesalahan tetap perlu diakui dan diperbaiki. Namun, menyampaikan kebenaran tidak mengharuskan kita merendahkan orang yang sedang melakukan kesalahan.

Ingat, tujuan nasihat adalah mengajak kepada kebaikan, bukan membuktikan bahwa diri kita paling baik.

7. Teruslah Berubah Menjadi Lebih Baik, Meski Tidak Ada yang Memuji

Perubahan yang baik tidak selalu mendapatkan perhatian dari orang lain.

Mungkin dahulu kita mudah marah, lalu perlahan belajar menahan emosi. Mungkin sebelumnya kita senang membicarakan keburukan orang lain, kemudian mulai membiasakan diri menjaga lisan. Mungkin dahulu kita sulit menerima kritik, tetapi sekarang mulai belajar mendengarkan sebelum memberikan tanggapan.

Perubahan seperti itu mungkin tidak terlihat besar bagi orang lain. Bahkan, tidak semua orang akan menyadarinya.

Namun, bukan berarti usaha tersebut tidak berarti.

Kebaikan tidak harus selalu diumumkan. Perbaikan diri juga tidak harus dibuktikan dengan menunjukkan kekurangan orang lain. Kita bisa terus belajar, memperbaiki kebiasaan, dan menjaga akhlak tanpa membutuhkan pengakuan bahwa diri kita lebih baik daripada siapa pun.

Jika suatu saat kita merasa mulai bangga secara berlebihan terhadap perubahan yang telah dicapai, berhentilah sejenak untuk mengevaluasi niat dan sikap kita.

Ingat kembali bahwa perjalanan memperbaiki diri tidak berhenti hanya karena kita berhasil melewati satu tahap. Selalu ada hal yang perlu dipelajari dan kebiasaan yang perlu diperbaiki.

Renungan tentang menjaga hati agar tidak merasa lebih baik daripada orang lain juga mengingatkan kita bahwa perubahan yang terlihat dari luar perlu disertai usaha menjaga kebersihan hati.

Penutup: Jadilah Lebih Baik Tanpa Merasa Paling Baik

Berubah menjadi lebih baik adalah pilihan yang layak kita perjuangkan. Kita perlu terus belajar, memperbaiki ibadah, menjaga akhlak, dan berusaha meninggalkan kebiasaan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Namun, jangan sampai perjalanan tersebut membuat kita merasa paling benar atau paling mulia.

Sebab, menjadi pribadi yang lebih baik bukan tentang memenangkan perbandingan dengan orang lain. Ini tentang bagaimana kita hari ini berusaha memperbaiki kekurangan yang kemarin masih kita miliki.

Kalau dahulu mudah merendahkan orang, belajarlah menghormati. Kalau dahulu sulit menerima nasihat, belajarlah mendengarkan. Kalau dahulu merasa selalu benar, belajarlah mengakui kesalahan.

Dan ketika melihat orang lain masih berjuang memperbaiki dirinya, jangan buru-buru menghakimi. Kita pun pernah memiliki kekurangan yang harus diperbaiki, dan sampai sekarang masih membutuhkan bimbingan serta nasihat.

Semoga Allah SWT membimbing kita agar terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, diberikan hati yang rendah hati, dijauhkan dari kesombongan, dan dimudahkan untuk menerima kebenaran dari mana pun datangnya.

Renungan hari ini: Jangan berhenti memperbaiki diri hanya karena sudah merasa cukup baik. Teruslah belajar tanpa merendahkan, teruslah berbuat baik tanpa menyombongkan diri, dan teruslah menjaga hati agar kebaikan yang kita usahakan juga tercermin dalam cara kita memperlakukan orang lain.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *