Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Kita Jatuh Cinta dengan Seseorang Pun Sebab Allah yang Izinkan


Ilustrasi pasangan Muslim yang saling memandang dengan suasana reflektif

Ada perasaan yang datang tanpa pernah kita rencanakan. Tiba-tiba saja, seseorang menjadi lebih sering terlintas dalam pikiran. Kehadirannya terasa berbeda, obrolan sederhana bisa meninggalkan kesan, dan tanpa sadar hati mulai menyimpan rasa.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir bahwa perasaan itu pun tidak hadir di luar kehendak Allah?

“Kita jatuh cinta dengan seseorang pun sebab Allah yang izinkan.”

Kalimat sederhana ini mengajarkan sesuatu yang dalam. Bahwa ketika hati mulai menyukai seseorang, kita tidak hanya perlu memikirkan siapa orangnya, tetapi juga bagaimana perasaan tersebut seharusnya kita sikapi.

Jatuh Cinta Itu Manusiawi

Menyukai seseorang bukan sesuatu yang aneh. Manusia memang memiliki hati, dan hati bisa tertarik kepada seseorang karena banyak hal. Bisa karena akhlaknya, cara bicaranya, perhatian kecilnya, atau bahkan karena kita merasa nyaman ketika berada di dekatnya.

Perasaan seperti itu bisa muncul tanpa diminta.

Yang menjadi persoalan bukan selalu tentang hadirnya rasa, tetapi tentang apa yang kita lakukan setelah rasa itu datang. Apakah cinta membuat kita semakin dekat kepada Allah, atau justru membuat kita lupa batas?

Di sinilah seseorang perlu belajar bahwa cinta bukan hanya tentang mendapatkan orang yang disukai. Cinta juga tentang bagaimana menjaga hati ketika belum mengetahui ke mana perasaan tersebut akan berakhir.

Allah yang Mempertemukan, Allah Pula yang Menentukan

Kadang kita bertemu seseorang pada waktu yang tidak pernah kita duga. Awalnya hanya pertemuan biasa, lalu berubah menjadi percakapan, kemudian menjadi kedekatan yang membuat hati mulai memiliki rasa.

Kita sering menyebutnya kebetulan.

Padahal sebagai seorang Muslim, kita percaya bahwa tidak ada sesuatu yang luput dari pengetahuan dan kehendak Allah. Pertemuan dengan seseorang bisa menjadi jalan menuju sesuatu yang baik, tetapi bisa pula menjadi pelajaran yang membuat kita lebih dewasa dalam memahami arti cinta.

Karena itu, jangan terlalu cepat menganggap seseorang yang kita cintai pasti menjadi milik kita.

Bisa jadi Allah mempertemukannya dengan kita untuk sebuah perjalanan panjang. Bisa juga hanya untuk memberikan pengalaman, pelajaran, atau mengajarkan bagaimana rasanya mencintai dengan cara yang lebih dewasa.

Jangan Sampai Cinta Membuat Kita Lupa kepada Allah

Perasaan yang kuat terkadang membuat seseorang ingin selalu dekat. Ingin selalu mendapatkan kabar, ingin diperhatikan, bahkan ingin memastikan bahwa orang yang dicintainya tidak pergi kepada orang lain.

Di titik inilah cinta membutuhkan kendali.

Kita boleh memiliki rasa, tetapi jangan sampai rasa tersebut membuat ibadah berkurang, hati menjadi gelisah terus-menerus, atau batas antara yang halal dan yang tidak halal mulai dianggap sepele.

Justru ketika benar-benar mencintai seseorang, kita perlu belajar menjaga cara mencintai tersebut.

Salah satu bentuknya adalah dengan memperbanyak doa. Bukan hanya berdoa agar dia menjadi milik kita, tetapi juga memohon agar Allah memberikan yang terbaik jika hubungan tersebut memang baik bagi agama, kehidupan, dan masa depan kita.

Untuk memahami bagaimana seharusnya seorang Muslim menjaga hubungan dan kehidupan agar tetap berada dalam nilai-nilai Islam, kita juga bisa memperdalam kajian dan informasi Islami di Pemuda Nurul Musthofa.

Kalau Memang Ditakdirkan, Tidak Perlu Memaksa

Ada hal yang sering membuat seseorang lelah ketika sedang jatuh cinta: terlalu takut kehilangan.

Kita berusaha mempertahankan seseorang seolah-olah seluruh masa depan bergantung kepadanya. Padahal, manusia hanya bisa berusaha. Hasil akhirnya tetap berada di luar kendali kita.

Kalau seseorang memang menjadi bagian dari takdir kita, jalan menuju hubungan yang baik akan memiliki jalannya sendiri. Bukan berarti semuanya akan selalu mudah, tetapi kita tidak perlu mengorbankan prinsip agama hanya karena takut kehilangan.

Dan jika ternyata Allah tidak menetapkannya untuk kita, bukan berarti doa dan perasaan yang pernah ada menjadi sia-sia.

Mungkin dari sana kita belajar tentang kesabaran. Mungkin kita belajar menerima sesuatu yang tidak sesuai keinginan. Atau mungkin kita akhirnya memahami bahwa tidak semua yang kita cintai harus kita miliki.

Cinta yang Baik Seharusnya Membawa Kita Lebih Dekat

Cinta yang sehat tidak membuat kita menjadikan manusia sebagai pusat kehidupan. Sebaliknya, rasa cinta bisa menjadi pengingat bahwa hati manusia memang mudah berubah dan karena itu membutuhkan Allah sebagai tempat bergantung.

Ketika menyukai seseorang, kita bisa mendoakannya tanpa harus memaksakan kehendak. Kita bisa mengaguminya tanpa kehilangan diri sendiri. Kita bisa berharap kepadanya tanpa melupakan bahwa keputusan terbaik tetap berada di tangan Allah.

Kalau pada akhirnya dipertemukan dalam ikatan yang halal, maka syukuri. Jika belum, tetap jaga hati dan perbaiki diri.

Sebab tugas kita bukan memaksa takdir mengikuti keinginan. Tugas kita adalah berusaha dengan cara yang baik, berdoa dengan sungguh-sungguh, kemudian belajar menerima keputusan Allah.

Mungkin Allah Mengizinkan Kita Jatuh Cinta untuk Belajar

Kita tidak pernah benar-benar tahu alasan Allah menghadirkan seseorang dalam hidup kita.

Mungkin dia datang untuk menjadi pasangan. Mungkin menjadi sahabat. Mungkin menjadi seseorang yang mengajarkan kita tentang kehilangan. Atau mungkin kehadirannya membuat kita kembali mengingat Allah setelah sekian lama hati terasa jauh.

Jadi ketika suatu hari hati kita jatuh cinta, jangan hanya bertanya, “Apakah dia akan menjadi milikku?”

Cobalah bertanya juga, “Apa yang Allah ingin aku pelajari dari perasaan ini?”

Pertanyaan tersebut membuat kita melihat cinta dari sudut pandang yang lebih luas. Karena cinta bukan hanya tentang siapa yang kita inginkan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga hati ketika Allah sedang mengajarkan sesuatu kepada kita.

Dan pada akhirnya, kita boleh mencintai seseorang dengan tulus. Namun tetap ingat bahwa hati kita berada dalam kuasa Allah.

Kita jatuh cinta dengan seseorang pun sebab Allah yang izinkan. Maka ketika mencintai, libatkan Allah. Ketika berharap, libatkan Allah. Dan ketika harus melepaskan, tetap libatkan Allah.

Karena bisa jadi, sesuatu yang hari ini kita anggap sebagai kisah cinta, sebenarnya sedang menjadi cara Allah membawa kita menuju versi diri yang lebih dekat kepada-Nya.

Jika ingin memperdalam refleksi tentang kehidupan, hati, dan nilai-nilai keislaman, pembaca juga dapat menemukan berbagai tulisan lainnya melalui Pemuda Nurul Musthofa.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *