Ada satu hal yang kadang tidak kita sadari ketika berbuat baik: kita ingin kebaikan itu dilihat, dihargai, bahkan diingat oleh orang lain.
Kita membantu seseorang, lalu berharap dia mengingatnya. Kita menjaga perasaan orang lain, lalu berharap suatu hari mereka melakukan hal yang sama kepada kita. Kita memberikan waktu, perhatian, atau tenaga, kemudian diam-diam menunggu penghargaan.
Padahal, di situlah hati mulai diuji.
Sebab menjadi orang baik di mata manusia belum tentu sama dengan menjadi orang yang ikhlas di hadapan Allah.
Jangan Sibuk Menjadi Orang yang Paling Baik
Menjadi pribadi yang baik tentu merupakan sesuatu yang indah. Kita diajarkan untuk membantu, menjaga lisan, menghormati orang lain, serta melakukan kebaikan selama mampu.
Tetapi ada satu hal yang jauh lebih dalam daripada sekadar terlihat baik: niat di balik kebaikan tersebut.
Seseorang bisa terlihat sangat baik karena banyak orang menyaksikan perbuatannya. Namun, belum tentu kita tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya.
Sebaliknya, ada kebaikan yang tidak pernah diketahui siapa pun. Tidak ada yang memuji, tidak ada yang mengunggahnya, bahkan mungkin orang yang menerima kebaikan tersebut tidak pernah tahu siapa yang membantunya.
Justru kebaikan seperti inilah yang mengajarkan kita tentang ikhlas.
Ikhlas Berarti Tidak Terlalu Bergantung pada Balasan
Ikhlas bukan berarti kita tidak boleh merasa senang ketika mendapatkan apresiasi. Kita tetap manusia yang bisa bahagia ketika kebaikan kita dihargai.
Namun, hati jangan sampai menjadikan penghargaan manusia sebagai tujuan utama.
Kalau setiap kebaikan harus dibalas, kita akan mudah kecewa.
Hari ini membantu seseorang, tetapi ketika dia tidak berterima kasih, hati mulai berkata, “Padahal aku sudah pernah membantunya.”
Pernah berada di posisi seperti itu?
Kalau iya, mungkin bukan kebaikannya yang harus disesali. Bisa jadi kita sedang diajarkan untuk memperbaiki niat.
Kebaikan Tidak Selalu Harus Diketahui Orang Lain
Di zaman ketika hampir semua hal mudah dibagikan, kita perlu belajar membedakan antara berbagi kebaikan dan mencari pengakuan.
Bukan berarti menunjukkan kebaikan selalu salah. Ada kalanya sebuah kebaikan dibagikan agar orang lain ikut terinspirasi.
Tetapi sesekali, cobalah melakukan sesuatu yang baik tanpa memberi tahu siapa pun.
Bantu seseorang diam-diam.
Doakan orang lain tanpa memberitahunya.
Berikan sesuatu tanpa menunggu ucapan terima kasih.
Maafkan seseorang tanpa merasa perlu mengumumkan bahwa kita sudah memaafkannya.
Di saat tidak ada manusia yang mengetahui, kita belajar bertanya kepada diri sendiri: untuk siapa sebenarnya aku melakukan semua ini?
Jangan Sampai Kebaikan Membuat Kita Merasa Lebih Tinggi
Ada ujian lain yang terkadang lebih halus.
Kita sudah banyak membantu orang, lalu tanpa sadar merasa lebih baik daripada mereka.
Kita merasa lebih sabar. Lebih dermawan. Lebih rajin beribadah. Lebih peduli. Bahkan akhirnya mudah melihat kekurangan orang lain.
Padahal, kebaikan seharusnya membuat hati semakin rendah hati, bukan semakin mudah merendahkan.
Semakin banyak kebaikan yang kita lakukan, seharusnya semakin sadar bahwa masih banyak hal dalam diri yang perlu diperbaiki.
Karena kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana akhir perjalanan seseorang, termasuk perjalanan diri kita sendiri.
Kalau Kebaikanmu Tidak Dihargai, Jangan Langsung Berubah
Salah satu alasan seseorang berhenti menjadi baik adalah karena pernah kecewa.
Sudah membantu, tetapi dimanfaatkan.
Sudah menjaga perasaan, tetapi justru disakiti.
Sudah tulus, tetapi malah dianggap memiliki maksud tertentu.
Perasaan kecewa seperti itu manusiawi. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya tidak menyakitkan.
Tetapi jangan biarkan perlakuan buruk seseorang menentukan siapa dirimu.
Kamu tetap boleh belajar lebih tegas. Kamu boleh membuat batasan. Kamu boleh mengatakan tidak ketika memang tidak mampu. Kamu juga boleh menjauh dari sesuatu yang terus membuatmu terluka.
Namun, jangan kehilangan sifat baik hanya karena pernah bertemu dengan orang yang tidak menghargainya.
Seperti nasihat yang juga pernah dibahas dalam artikel jangan pernah menyesal menjadi orang baik, kebaikan tidak seharusnya diukur hanya dari bagaimana manusia membalasnya.
Ikhlas Bukan Berarti Membiarkan Diri Dimanfaatkan
Ini penting untuk dipahami.
Ikhlas bukan berarti kamu harus selalu mengalah.
Ikhlas juga bukan berarti membiarkan orang lain memperlakukanmu seenaknya.
Kamu bisa ikhlas membantu seseorang sekaligus memiliki batasan. Kamu bisa memaafkan tanpa kembali memberikan kepercayaan yang sama. Kamu bisa tetap mendoakan seseorang tanpa harus terus berada di dekatnya.
Menjaga hati dan menjaga diri bukan tanda bahwa kebaikanmu hilang.
Justru, ketika kebaikan dilakukan dengan bijaksana, kita tidak mudah merasa menjadi korban dari kebaikan yang kita lakukan sendiri.
Jangan Terlalu Sibuk Membuktikan Bahwa Dirimu Baik
Kadang kita terlalu lelah menjelaskan niat kepada manusia.
Ketika disalahpahami, kita ingin semua orang tahu bahwa sebenarnya kita tidak bermaksud buruk. Ketika kebaikan kita dipertanyakan, kita ingin menjelaskan seluruh cerita dari awal.
Padahal, tidak semua orang harus memahami kita.
Ada kalanya kita cukup memperbaiki apa yang memang salah, lalu melanjutkan hidup dengan tenang.
Allah mengetahui apa yang tidak diketahui manusia. Karena itu, jangan sampai hidup kita habis hanya untuk mengejar pengakuan bahwa kita adalah orang baik.
Belajar ikhlas berarti perlahan melepaskan kebutuhan untuk selalu dipahami oleh semua orang.
Yang Perlu Dijaga Bukan Citra, Tapi Hati
Citra bisa dibangun dalam waktu singkat. Tetapi menjaga hati membutuhkan perjuangan yang jauh lebih panjang.
Hari ini kita dipuji karena sebuah kebaikan. Besok mungkin tidak ada yang memperhatikan.
Hari ini orang menganggap kita baik. Besok mungkin ada yang salah memahami.
Kalau hati terlalu bergantung pada penilaian manusia, kita akan mudah berubah mengikuti keadaan.
Sebaliknya, ketika tujuan kita adalah memperbaiki diri dan mencari ridha Allah, pujian maupun celaan tidak lagi menjadi satu-satunya penentu langkah.
Hal ini sejalan dengan renungan tentang menjaga hati agar tidak merasa lebih baik dari orang lain.
Jadilah Baik Karena Memang Ingin Berbuat Baik
Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk menjadi orang yang paling baik di mata manusia.
Cukup terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.
Kalau dipuji, jangan terlalu tinggi.
Kalau tidak dihargai, jangan langsung berhenti.
Kalau disalahpahami, perbaiki jika memang ada kesalahan lalu serahkan hal yang tidak bisa kita kendalikan kepada Allah.
Dan ketika melakukan kebaikan, cobalah sesekali bertanya kepada hati sendiri:
“Kalau tidak ada satu pun manusia yang tahu, apakah aku masih mau melakukannya?”
Jika jawabannya masih iya, mungkin di situlah kita sedang belajar tentang keikhlasan.
Sebab menjadi orang baik memang indah. Tetapi menjadi orang yang ikhlas adalah perjalanan hati yang jauh lebih dalam.
Tidak semua kebaikan harus terlihat. Tidak semua ketulusan harus dijelaskan. Dan tidak semua kebaikan membutuhkan balasan dari manusia.
Cukup lakukan yang baik dengan niat yang baik, lalu biarkan Allah yang mengetahui dan menilai apa yang ada di dalam hati.
