Membangun pemuda / pemudi untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam. Membina silaturahmi terhadap semua elemen umat Islam. Membangun sikap positif dan membuka wawasan umat tentang sistem dakwah dalam dunia Islam. Memahami arti pentingnya fungsi lingkungan Islami dalam membentuk pribadi umat masa depan. Menggapai ridho Allah dan syafa’at Rasulullah SAW sebagai hasil dari aktivitas kebaikan yang terus menerus sedang kita lakukan. Menjaga budaya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga budaya Islam yang diajarkan oleh orang tua kita terdahulu.

Didik Mata dan Mulutmu: Cara Sederhana Menjaga Adab dan Menghargai Sesama


Ilustrasi nasihat tentang mendidik mata dan mulut agar tidak merendahkan atau menyakiti orang lain.

Ada nasihat sederhana yang mungkin pernah kita dengar, tetapi ternyata cukup dalam maknanya: didik mata supaya tidak memandang rendah orang lain, dan didik mulut supaya tidak menyakiti orang lain.

Kelihatannya mudah, ya? Tinggal menjaga pandangan dan ucapan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, dua hal ini sering menjadi ujian yang tidak kita sadari.

Kita bisa saja merasa sudah menjadi orang baik, tetapi tanpa sadar meremehkan seseorang karena penampilannya. Kita juga mungkin menganggap sebuah komentar sebagai candaan biasa, padahal orang yang mendengarnya justru merasa terluka.

Karena itu, nasihat ini bukan sekadar mengingatkan kita untuk menjaga mata dan mulut. Lebih dari itu, kita diajak belajar memperbaiki hati, agar cara kita melihat dan memperlakukan orang lain semakin baik.

Jangan Merasa Lebih Tinggi Hanya karena Memiliki Kelebihan

Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang diberi kelebihan dalam ilmu, ada yang memiliki rezeki lebih luas, ada pula yang sedang berjuang melewati masa sulit.

Sayangnya, terkadang kelebihan yang kita miliki justru membuat kita lupa diri. Kita merasa lebih pintar, lebih sukses, atau lebih baik daripada orang lain. Tanpa sadar, kita mulai memandang mereka seolah-olah berada di bawah kita.

Padahal, memiliki kelebihan bukan alasan untuk merendahkan siapa pun. Justru semakin banyak yang kita miliki, semakin besar pula kesempatan untuk membantu dan menghargai orang lain.

Kalau kita punya ilmu, gunakan untuk membimbing. Kalau punya rezeki, gunakan untuk berbagi. Kalau memiliki pengalaman, gunakan untuk membantu orang yang sedang belajar.

Jangan sampai sesuatu yang seharusnya membuat kita bersyukur malah menjadi alasan untuk menyombongkan diri.

Belajar Melihat Orang Lain dengan Lebih Bijak

Mendidik mata bukan hanya berarti menjaga apa yang kita lihat. Nasihat ini juga mengajak kita memperbaiki cara menilai orang lain.

Kita sering kali hanya melihat satu bagian dari kehidupan seseorang, lalu merasa sudah mengetahui seluruh ceritanya. Melihat seseorang gagal, kita menganggapnya tidak mampu. Melihat seseorang melakukan kesalahan, kita merasa dirinya tidak memiliki kebaikan.

Padahal, kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh perjuangan yang sedang dijalani seseorang.

Mungkin hari ini dia sedang berada di titik terendah. Namun, bukan berarti hidupnya akan selalu seperti itu. Begitu juga dengan diri kita. Hari ini mungkin kita merasa lebih baik, tetapi bukan berarti kita tidak pernah melakukan kesalahan.

Jadi, sebelum menilai orang lain, cobalah berhenti sejenak. Jangan terburu-buru menyimpulkan sesuatu hanya dari apa yang terlihat di depan mata.

Kita tetap boleh menilai suatu perbuatan sebagai sesuatu yang keliru. Namun, menegur kesalahan tidak harus membuat kita merendahkan orang yang melakukannya.

Menjaga Lisan, Bukan Berarti Harus Selalu Diam

Kalau mendidik mata mengajarkan kita untuk tidak meremehkan, mendidik mulut mengajarkan kita agar lebih berhati-hati dalam berbicara.

Ucapan yang keluar dalam beberapa detik bisa saja diingat seseorang selama bertahun-tahun. Apalagi jika perkataan tersebut menyentuh bagian hidup yang sensitif, seperti kekurangan fisik, kondisi ekonomi, keluarga, atau kesalahan masa lalu.

Kita mungkin sudah melupakan perkataan itu. Namun, orang yang mendengarnya belum tentu bisa melupakannya semudah kita mengucapkannya.

Bukan berarti kita tidak boleh bercanda, mengkritik, atau menyampaikan pendapat. Semua itu tetap boleh dilakukan. Hanya saja, kita perlu belajar membedakan antara berbicara dengan jujur dan berbicara tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Kalau sebuah candaan harus membuat seseorang merasa dipermalukan, apakah benar itu masih layak disebut candaan?

Kalau sebuah nasihat justru membuat orang merasa dihina, mungkin ada cara penyampaian yang perlu kita perbaiki.

Menjaga lisan bukan berarti kehilangan keberanian untuk berbicara. Kita tetap bisa menyampaikan kebenaran, tetapi dengan cara yang lebih bijak dan tidak merendahkan.

Nasihat yang Baik Dimulai dari Niat Memperbaiki

Ada perbedaan antara menasihati seseorang karena ingin membantunya dan menasihati hanya untuk menunjukkan bahwa kita lebih baik darinya.

Keduanya mungkin sama-sama terdengar seperti nasihat. Namun, niat dan cara penyampaiannya bisa sangat berbeda.

Ketika melihat seseorang melakukan kesalahan, kita bisa memilih untuk mengingatkannya secara pribadi, menggunakan bahasa yang sopan, dan memberikan kesempatan kepadanya untuk menjelaskan keadaan.

Sebaliknya, mempermalukan seseorang di depan banyak orang hanya demi membuktikan bahwa kita benar bisa membuat nasihat kehilangan manfaatnya.

Dalam pembahasan tentang kenapa adab harus didahulukan sebelum ilmu, kita juga diingatkan bahwa pengetahuan seharusnya berjalan bersama akhlak. Semakin banyak ilmu yang dimiliki, semestinya semakin bijak pula cara seseorang memperlakukan sesamanya.

Karena tujuan menasihati bukan untuk membuat orang lain terlihat buruk. Tujuannya adalah membantu agar sama-sama menjadi lebih baik.

Mulai dari Kebiasaan Kecil dalam Kehidupan Sehari-hari

Kita tidak perlu menunggu menjadi orang yang sempurna untuk mulai memperbaiki adab. Justru perubahan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana yang sering kita anggap sepele.

  • Tidak ikut menertawakan kekurangan orang lain.
  • Mendengarkan ketika seseorang sedang berbicara.
  • Tidak menyebarkan aib atau cerita pribadi orang lain.
  • Mengucapkan terima kasih ketika menerima bantuan.
  • Berani meminta maaf ketika perkataan kita ternyata menyakiti.
  • Menyampaikan kritik dengan cara yang sopan dan membangun.

Kebiasaan kecil seperti ini mungkin tidak membuat kita terlihat hebat di mata banyak orang. Namun, bisa jadi justru itulah yang membuat kehadiran kita terasa nyaman bagi orang-orang di sekitar.

Kita juga perlu belajar memperbaiki diri ketika menyadari pernah merendahkan orang lain. Tidak perlu mencari alasan untuk membenarkan kesalahan. Akui, minta maaf jika memang perlu, lalu berusaha agar hal yang sama tidak terulang.

Jangan Sampai Kebaikan Membuat Kita Merasa Paling Baik

Hal lain yang perlu kita waspadai adalah ketika kita mulai merasa lebih baik hanya karena melihat kekurangan orang lain.

Kita mungkin rajin beribadah, memiliki pengetahuan agama, atau terbiasa melakukan kebaikan. Semua itu tentu patut disyukuri. Namun, jangan sampai membuat kita merasa memiliki hak untuk merendahkan orang yang sedang berusaha memperbaiki dirinya.

Setiap orang memiliki proses yang berbeda. Ada yang sedang belajar meninggalkan kebiasaan buruk, ada yang baru mulai mendekat kepada Allah, dan ada pula yang sedang berjuang memperbaiki akhlaknya.

Daripada sibuk membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik gunakan kesempatan untuk memperbaiki diri sendiri.

Seperti yang dibahas dalam artikel istiqamah menjaga hati agar tidak merasa lebih baik dari orang lain, kebaikan seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin mudah menghakimi.

Kalau melihat seseorang melakukan kesalahan, semoga kita bisa mengingatkan dengan baik. Kalau belum mampu membantu, setidaknya jangan menambah beban dengan perkataan yang menyakitkan.

Penutup: Perbaiki Cara Memandang, Perbaiki Cara Berbicara

Nasihat untuk mendidik mata dan mulut mengingatkan kita bahwa akhlak tidak hanya terlihat dari tindakan besar. Cara kita memandang orang lain dan memilih kata-kata dalam percakapan sehari-hari juga merupakan bagian penting dari akhlak.

Sebelum merasa lebih tinggi, ingatlah bahwa setiap kelebihan adalah amanah. Sebelum mengomentari kekurangan seseorang, ingatlah bahwa kita juga memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki.

Dan sebelum mengucapkan sesuatu, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah perkataan ini benar-benar membawa manfaat, atau justru hanya akan menyakiti?

Semoga Allah menjaga pandangan kita dari sikap meremehkan, menjaga lisan kita dari ucapan yang menyakitkan, serta membimbing hati kita agar semakin rendah hati dan mampu menghargai sesama.

Karena menjadi baik bukan hanya tentang bagaimana kita memperlakukan orang yang kita kagumi. Menjadi baik juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang yang mungkin tidak memiliki apa pun untuk kita banggakan.





Subscribe to receive free email updates:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *